Kelam
This post is for myself
Dulu
Saat kita masih satu rasa, satu asa
Masih teringat di memori
Apa saja yang kita lakukan
Canda dan gelak tawa itu
Entah mengapa masih menempel dengan erat
Terbias
Mengawang-awang
Tak dapat dipungkiri
Memang kebodohanku
Yang dengan mudahnya
melepas semuanya
Seakan-akan aku takkan
kehilangan segalanya
Dengan sombongnya aku
mulai tak menganggap
Besar kepala dan angkuh
Amat congkak
Dan tapi masih saja aku
tak berubah
Dulu
Sempat satu dua hingga tiga kali
Aku memutus asaku, memutus ikatan milikku
Dengan begitu percaya diri
Tak sadar itulah awal kehancuranku
Bahkan tak luput pula
Bahwa maut nyaris menjemput
Hilangnya akal ini jadi sebabnya
Kini
Setelah aku menyadari
Bahwa tak ada jalan
untuk berbalik
Haruskah aku jujur atau
tidak
Pada diriku dan temanku
Haruskah aku memutus ikatan
ini
Seperti dahulu yang
pernah kulakukan
Entah mengapa, aku tak
segan untuk kehilangan
Tak segan pula tuk
menyendiri
Sebab sedari dulu
Bukankah kesendirian
itu yang menemaniku?
Cepat
Begitu cepatnya waktu berlalu
Merenggut kenaifanku ini
Dikoyaknya kepercayaan ini
Dicabiknya mental yang lunglai ini
Ditinggalkannya suatu jejak
Yang tak dapat dinanti-nanti
Terus membekas hingga ajal menanti
Bagiku, terlalu cepat
untuk melepaskan
Namun apa daya
Jikalau aku terus
mengulur
Kekosongan
menghampiriku
Dan lantas
Keterlambatanlah yang
menantikanku
Coba katakan padaku
Apa yang bisa kulakukan
Apakah doa dapat menolong?
Tidak, tidak bisa
Dahulu pun seperti itu
Berharap pada doa, berharap akan tertolong
Sembari mengheningkan diri, diam tak berdaya
Hanya tragedi yang tampak
Sebab telah terunggahlah dirinya
Oleh satu kesalahan kecil
Yang tak terlekang oleh waktu
Tak termaafkan
Kebanggaan ini merusak
Bagi mereka, aku telah
rusak
Dan dalam pandanganku
Kesunyianlah
yang diuntungkan
Senyumnya tak pernah
hilang
Tak ada kata bila ia menyesal
Sekalipun ada pun
Terlambat sudah
Sebab dirinya telah
pecah
Seperti diriku ini pun pecah
Hanya onggokan tersisa
Yang tak dapat pulih kembali
This comment has been removed by the author.
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeletelantas, mengapa lebih memilih berteman dengan kesendirian bila pada akhirnya kesendirian hanya membuatmu benar benar merasa sendiri dan hilang tanpa arah?
ReplyDeleteanyway sorry for running into this blog if u use this as a private media. nice post!
Delete