Bohong



Bohong

Aku muak atas segala kebohongan yang menemaniku. Bersemayam dalam diriku sejak lalu-lalu. Tampak berbincang denganku meski aku tak mau. Saat bayangku ada di belakang, ialah yang ada di sisiku. Tak mengunjukkan diri bila yang lain muncul. Ia mengikisku pelan-pelan dari dalam.
Aku tahu bahwa ini semua salah. Ketidakinginanku terhadap hal-hal ‘itu’. Itu hanyalah dusta. Tak mungkin aku tak menginginkannya. Aku menolaknya. Aku bermimpi seolah-olah semua terjadi sesuai kehendakku. Tapi, mau apa aku dengan kehendakku itu? Yang bahkan, tak dapat dengan jujurnya kukatakan.

Berpura-pura pun ada batasnya bukan? Tapi bagiku tidak. Tidak, sampai saat ini. Hampir 19 tahun aku hidup dalam kedustaan, menolak kedua hal yang amat jelas. Hal yang sangat kuinginkan. No progress sudah tentu jadi jawaban dari dampak hal ini.

Putus asa sudah pasti. Namun aku ragu, apa sebenernya mauku. Aku ingin maju. Namun kemajuan itu pun terbendung dengan mudahnya. Terbatasi dalam sangga-sangga, pagar-pagar. Kerangkeng yang tak pernah terbuka. Cangkang yang selalu terkunci. Entah kapan akan terbuka. Atau mungkin, takkan pernah terbuka?

Sudah saatnya aku mengambil keputusan bukan? Wahai diriku, insan yang dilanda pilihan. Tak sampai satu minggu lagi, mungkin dirimu harus berkata-kata. Dua minggu dari sekarang, mungkin dirimu sudah setengah puas bukan? Bahkan, mungkin, satu bulan dari sekarang, kau sudah berbeda.
Pahami baik-baik diriku, bahwasanya kau takkan maju jika hanya berhasrat. Lakukanlah sekarang juga! Katakan sekarang juga! Teriakkan hasrat terpendammu dari dasar jiwamu yang haus akan hal ‘tersebut’!

Permohonanku hanya satu, yaitu jangan pernah menyesal! Buat dirimu merasa bahwa penantianmu selama ini tak sia-sia, bahwa kesabaranmu tak pernah salah, dan bahwa dirimu masih bisa untuk maju, untuk naik, ke mimpi-mimpimu yang tak terbatas itu!


-------
Bandung, 29 Mei 2018


Comments

Popular posts from this blog

Kelam

Karma