Posts

Showing posts from March, 2018

Bunga Pertama : Lunaria

Lunaria Lunaria. Bunga berumur 18 tahun yang tumbuh di tempatku menempuh pendidikan. Seperti namanya, ia menggambarkan sosok bulan yang kian indah saat malam. Ia kerap dipanggil sebagai Lunar. Seperti bulan, ia memiliki banyak sisi yang menarik. Ia ada sebagai perwakilan para bunga. Sebagaimana pula namanya, setiap bulan dirinya semakin matang. Dilambangkannya lah gadis kembar sebagai wujud simbolis kematangannya.   Lunaria. Di timur, ia menyapaku. Kujanjakan makananku, ditolaknya dengan halus. Rambutnya sedikit ikal, diurai tak diikat. Ia masuk ke kediamannya dan tak beranjak lagi. Di barat, dua wajah ia kenakan. Di puncaknya, kerap hanya memalingkan wajah, bergerumun bersama teman-temannya. Namun, di dasar, ia tersenyum manis dan memberikan tatap, memberikan kesan yang mendalam. Entah apakah itu salam, keramah-tamahan, atau malah suatu tantangan? Lunaria. Konon, dirimu berasal dari tanah Eropa. Tapi, jangankan Eropa, kau bahkan tak menunjukkan eksistensimu sebagai p...

Waktu dan Pemainannya

This post is for myself Waktu Memberi tanya, memecah jawab Menggulir roda kehidupan Dalam kesinambungannya Yang Konstan namun penuh makn Waktu Tak berwujud tak terhenti Siapakah ia sesungguhnya Hingga mampu menggurui Diri tak berharga ini Oh seandainya saja Dapat kuputar kembali Masa yang t’lah lewat Yang menggejolakkan hati Namun apadaya Sungguh tinggi hierarkimu Hingga tak tergapai olehku Apalagi mempermainkannya Dua kali kau menatapku Dengan sinis pun Masih sempat kau tertawa Terpingkal-pingkal Menertawaiku dari sana Dari tempatmu Singgasana yang amat memukau Entah dimanakah itu Yang pertama sudah lalu Dengan kenaifan itu Mawar pertama pun layu Dirinya tak lagi merah seperti kawannya Telah ternodai dirinya Lalu ia bangkit Amarahnya penuh duri Ditusuknyalah sukma ini Tak berdarah memang Tapi apa kau kira Melihat mawar putih kembali Luka ini telah pulih? Yang kedua pun telah berlalu Bermula dari...

Kelam

This post is for myself Dulu Saat kita masih satu rasa, satu asa Masih teringat di memori Apa saja yang kita lakukan Canda dan gelak tawa itu Entah mengapa masih menempel dengan erat Terbias Mengawang-awang Tak dapat dipungkiri Memang kebodohanku Yang dengan mudahnya melepas semuanya Seakan-akan aku takkan kehilangan segalanya Dengan sombongnya aku mulai tak menganggap Besar kepala dan angkuh Amat congkak Dan tapi masih saja aku tak berubah Dulu Sempat satu dua hingga tiga kali Aku memutus asaku, memutus ikatan milikku Dengan begitu percaya diri Tak sadar itulah awal kehancuranku Bahkan tak luput pula Bahwa maut nyaris menjemput Hilangnya akal ini jadi sebabnya Kini Setelah aku menyadari Bahwa tak ada jalan untuk berbalik Haruskah aku jujur atau tidak Pada diriku dan temanku Haruskah aku memutus ikatan ini Seperti dahulu yang pernah kulakukan Entah mengapa, aku tak segan untuk kehilangan Tak segan pula tuk me...