Posts

Sabarku

Sabar adalah kunci Yang meraba diri Ketika luapan emosi meledak Tak tahu  harus kemana Tak tahu jalan pulang Waktu adalah jawaban Yang senantiasa menunggu di ujung perjalanan Pertanyaanku selama ini Terjawab sudah Waktunya sudah tiba Ketika diriku terpoles  Mengetahui kebenaran Sudah tak ada keraguan Aku kini sudah kembali Menuju lima tahun lampaunya Atau delapan Atau mungkin empat belas Atau mungkin enam belas Jika belum Ya tunggu saja Kuperlihatkan padamu wahai kekasih Jiwa Untuk apa Kita ada disini Kobaran semangatku pula Telat baranya yang semakin memanas Kian berkobar penuh debaran Mungkin di masa ini kita belum bisa bertemu Mungkin eksistensiku saat ini Ada untuk membayar masa lalu Tapi diriku di masa depan tidak Sebab Aku tahu Ada waktunya Kita bersama Nanti... Saat Kita sudah bukan Kita lagi

Jiwa

Sebenarnya.. Siapa kita? Siapakah aku ini yang menjejakan kaki disini Siapakah engkau ini pula Yang melambaikan jemari Dan membuatku memikirkan dikau?  Hai Jiwaku Pecahan Ilahi Rekan dari sekumpulan Jiwa yang rapuh Berdamailah Maafkanlah kelemahanmu Sebab tak ada yang dapat disalahkan Tidak orangtuamu Tidak pula Tuhanmu Sebab hadirmu di jasad ini Pasti ada alasannya bukan? Gelisahku tak dapat dibendung Kekecewaanku pun begitu Tidak pula dengan kemarahanku Salam, Hai Jiwa-Jiwa yang rapuh  Kita semua terikat oleh satu benang Benang merah merona Merah Ilahi Karenanya, simpanlah gelisahmu itu Kekecewaanmu itu, kemarahanmu itu Biarkan Jiwa rapuhmu hancur Dan ketika waktunya nanti, biarkan sang Jiwa itu tumbuh Pada saatnyalah.. Kau tahu bahwa kau tidak pernah salah Tuhan Ilahi Suci Atau Gusti Atau Semesta Atau Energi Murni Atau Cahaya Hati Atau Ia yang bersemayam pada segala makhluk hidup Perbolehkanlah Aku kembali pad...

Karma

Seorang gadis pernah berkata "Selama belum terikat, sikat saja" Oh begitu, pikirmu Dengar dan renungkan ini, hai Gadis Tak tahukah dirimu akan sebuah buah Buah yang tak memiliki pohon, tapi terus tumbuh Sebagaimana semesta ini berawal dan berakhir Begitu pula buah ini Ia akan tumbuh sebagaimana suatu insan Selama insan itu hidup, maka buah itu kan tumbuh Entah kapan buah itu kan dipetik Tapi petikannya itu mutlak tak terhindarkan Ya.. Buah karma namanya Hai, Gadis Ketahuilah Bahwasanya ketika kau memikirkan hal itu Suatu saat nanti, hal itu kan berbalik padamu Kuasailah hatimu, jinakkanlah nafsumu Harga dirimu yang suci itu pun memberontak, bukan? Mengetahui bahwasanya belenggu dosa itu mencoba muncumbuimu Nafsu kepemilikan tiada henti Berangsur-angsur kau sadar Namun semua sudah terlambat Kau sudah menyikatnya, Nona Dan kini sang buah siap dipetik Menjawab segala tindak-tanduk Yang kau coba sembunyikan itu

Takut

Takut Banyak yang takut akan hal-hal sepele Takut tidak punya uang Kehilangan teman Atau sekadar kegagalan Tidak teman, tidak apa Biarlah mereka bilang ini sepele Buatku, rasa takutmu itu lumrah Akupun takut pada diriku Yang lemah dan kian membusuk Tak ranum namun merona Yang tahu batasan diri, tingginya mimpi Tahu bahwa saat ini tak teraih Pun nanti saat aku t'lah dewasa Aku laki-laki Tapi tak tahu jati diri Sesungguhnya malu akan diri ini Sudah kehilangan tujuan pun ambisi Kini akupun tak tahu harus apa Tiap hari kulalui dengan senandung-senandung indah Menghibur diri Tak bisa kabur dari dunia korup nan rusak ini Salahkah aku seperti ini? Atau salah orang tua ku? Salah siapa ini? Salah Ia yang menciptakanku? Salah dunia ini? Atau kau hanya mampu berkata, Bahwasanya aku tak bersyukur Sama seperti para hipokrit di luar sana, di sekitarku Hahaha begitu tawa mereka Sungguh, aku bertanya-tanya Mungkinkah... Kematian jauh lebih baik dari i...

Habis

Berkat sudah habis Sang pemegang kendali tak ragu lagi Sudah tertutup, entah rapat atau renggang Pintu diri, pintu penguasaan diri Kans kami yang terperangkap Dalam pongahnya harga diri ini Dalam gelora yang sungguh, penuh keangkuhan Dalam masa depan yang penuh pengharapan Kemenangan yang dinanti tak pernah datang Sebab dusta yang bersarang di hati ini takkan membiarkanku Dua dekade aku hidup Tahu bahwa perlahan-lahan Ia datang Melumatku yang diam tak berdaya Tersenyum dan mengikutiku Sembari hatinya yang kian mekar itu menusukku Kebanggaannya pun pasti kan runtuh sepertiku Entah kapan Entah.. Mungkin sampai ajal datang Sampai maut menjemput Sampai pada akhirnya waktu menjawab Keputusasaan tiada akhir ini

Bulan

Sebut saja Mawar. Klise. Orang-orang sudah terlalu sering menggunakan umpama seperti itu. Lalu, apalagi yang dapat kau tawarkan, hai kawan? Kalau begitu, sebut saja dia Bulan. Bulan anggun sekali kala itu. Sejak pertama kali kulihat dia dalam basa-basi omong kosong pagi hari, setahun yang lalu. Perawakan dan pakaiannya putih bersih. Ia terlihat buru-buru. Baru saja ingin  kutangkap momen itu. Sayang, ia pergi lebih dulu. Bersama kawan-kawannya. Meninggalkan kami di atas salah satu gedung pengiriman tertua di Kota Kembang. Dago Pakar. Sore itu terasa dingin sekali. Senja yang perlahan menampakan dirinya menyelimuti kami. Aku dan yang lainnya bermain kartu. Tak lama, muncul Bulan dan kawannya. Gugup. Sudah pasti bukan? Aku beramah-tamah padanya, pada teman-temannya. Sungguh bahagia diriku kala itu Berselang satu bulan, semua berubah. Aku tak lagi dekat dengan kawanku. Tapi Bulan tetap seperti dulu. Saat itu, aku belum tau, bahwa Bulan dimiliki seseorang, jauh sebelum ak...

Bohong

Bohong Aku muak atas segala kebohongan yang menemaniku. Bersemayam dalam diriku sejak lalu-lalu. Tampak berbincang denganku meski aku tak mau. Saat bayangku ada di belakang, ialah yang ada di sisiku. Tak mengunjukkan diri bila yang lain muncul. Ia mengikisku pelan-pelan dari dalam. Aku tahu bahwa ini semua salah. Ketidakinginanku terhadap hal-hal ‘itu’. Itu hanyalah dusta. Tak mungkin aku tak menginginkannya. Aku menolaknya. Aku bermimpi seolah-olah semua terjadi sesuai kehendakku. Tapi, mau apa aku dengan kehendakku itu? Yang bahkan, tak dapat dengan jujurnya kukatakan. Berpura-pura pun ada batasnya bukan? Tapi bagiku tidak. Tidak, sampai saat ini. Hampir 19 tahun aku hidup dalam kedustaan, menolak kedua hal yang amat jelas. Hal yang sangat kuinginkan. No progress sudah tentu jadi jawaban dari dampak hal ini. Putus asa sudah pasti. Namun aku ragu, apa sebenernya mauku. Aku ingin maju. Namun kemajuan itu pun terbendung dengan mudahnya. Terbatasi dalam sangga-sangga, p...