Bulan


Sebut saja Mawar. Klise. Orang-orang sudah terlalu sering menggunakan umpama seperti itu. Lalu, apalagi yang dapat kau tawarkan, hai kawan? Kalau begitu, sebut saja dia Bulan.

Bulan anggun sekali kala itu. Sejak pertama kali kulihat dia dalam basa-basi omong kosong pagi hari, setahun yang lalu. Perawakan dan pakaiannya putih bersih. Ia terlihat buru-buru. Baru saja ingin 
kutangkap momen itu. Sayang, ia pergi lebih dulu. Bersama kawan-kawannya. Meninggalkan kami di atas salah satu gedung pengiriman tertua di Kota Kembang.

Dago Pakar. Sore itu terasa dingin sekali. Senja yang perlahan menampakan dirinya menyelimuti kami. Aku dan yang lainnya bermain kartu. Tak lama, muncul Bulan dan kawannya. Gugup. Sudah pasti bukan? Aku beramah-tamah padanya, pada teman-temannya. Sungguh bahagia diriku kala itu
Berselang satu bulan, semua berubah. Aku tak lagi dekat dengan kawanku. Tapi Bulan tetap seperti dulu. Saat itu, aku belum tau, bahwa Bulan dimiliki seseorang, jauh sebelum aku mengenalnya.

Kini, sudah setahun berlalu. Aku sudah biasa melihatnya. Tak seperti dulu yang mengidamkannya, aku kini sudah melepas ego. Sadar diri bahwa Bulan bukan milikku. Hak pemiliknyalah dirinya, tentu saja. Aku sadar bahwa Bulan hanya datang untuk sekedar menjadi aktris, menjadi seorang karakter dalam kisahku. Ia sekedar mampir, lalu-lalang saja.

Bulan lebih dari sekedar cahaya bagiku. Tapi, sadar bahwa aku tak dapat bersamanya itu menyakitkan. Tidak seperti cahayaku yang sebelum-sebelumnya. Mereka redup, namun menerangi aku, meski cahaya itu semakin pudar dan hilang. Entah terenggut dariku. Entah meninggalkanku.

Bulan terlalu benderang. Gemerlapku tak dapat menaunginya. Aku tak pantas untuknya, pun ia tak pantas untukku. Hanya harap demi harap yang terus tersayat, dari waktu ke waktu.

Tiga tahun. Aku akan menunggu, sampai saat itu tiba. Tak ada yang tahu akhir cerita mereka. Bulan dan pasangannya. Entah akulah yang mengisi kekosongan itu, jika mungkin, ataukah kekosongankulah yang diisi oleh seseorang.

Salamku bagimu, Bulan.
23 September 2018

Comments

Popular posts from this blog

Bohong

Kelam

Karma