Bunga Pertama : Lunaria
Lunaria
Lunaria. Bunga berumur 18 tahun
yang tumbuh di tempatku menempuh pendidikan. Seperti namanya, ia menggambarkan sosok bulan yang kian
indah saat malam. Ia kerap dipanggil sebagai Lunar. Seperti bulan, ia memiliki
banyak sisi yang menarik. Ia ada sebagai perwakilan para bunga. Sebagaimana
pula namanya, setiap bulan dirinya semakin matang. Dilambangkannya lah gadis
kembar sebagai wujud simbolis kematangannya.
Lunaria. Di timur, ia menyapaku. Kujanjakan
makananku, ditolaknya dengan halus. Rambutnya sedikit ikal, diurai tak diikat.
Ia masuk ke kediamannya dan tak beranjak lagi. Di barat, dua wajah ia kenakan.
Di puncaknya, kerap hanya memalingkan wajah, bergerumun bersama teman-temannya.
Namun, di dasar, ia tersenyum manis dan memberikan tatap, memberikan kesan yang
mendalam. Entah apakah itu salam, keramah-tamahan, atau malah suatu tantangan?
Lunaria. Konon, dirimu berasal
dari tanah Eropa. Tapi, jangankan Eropa, kau bahkan tak menunjukkan eksistensimu
sebagai pewaris darah Barat. Wajahmu lebih mencerminkan darah Timur yang amat
kental. Kau pernah menyangkalnya dan berkata kau dari tanah yang sama denganku.
Bahkan, tempat asal kita berdekatan.
Lunaria. Sadar atau tidak, kau
seperti Kartini, memperjuangkan hak dan derajat kaummu. Kau bahkan marah saat
aku tak sengaja merendahkan kaummu, bukan? Ah.. Lunaria. Kelopakmu itu sungguh
indah. Tapi mengapa kesedihan selalu kurasa tiap kali kulihatmu? Dan mengapa
ketertarikanku ini malah membuatku membencimu?
Lunaria. Kekagumanku mengalir tak henti-henti. Tiap
waktu kian bertambah rasa kagumku padamu. Mahkotamu tak hanya fisik, akalmu pun
jadi lambang tahtamu. Kekaguman ini membuatku gundah. Jantungku menolak diam,
berniat kabur saat melihatmu. Hal yang kau sukai juga kuasai memerintah tubuhku
tuk bereaksi. Tak karuan. Terlebih apabila kau bersama dengan bunga lain,
seperti Flox, bunga ungu bermadu kesukaanmu itu.
Lunaria, Lunaria, Lunaria.... Aku
rindu padamu. Tak terbayangkan pertumbuhanmu di tahun mendatang. Dua saudarimu sedang
tumbuh, sama sepertimu. Aku tak mengenalnya, sama seperti aku pun sebenernya
tak mengenalmu. Aku hanya sekedar tahu, bahwa dirimu kini t’lah dipetik. Entah
oleh siapa. Entah kenalanku atau bukan, aku tak berhak tau. Sebab aku bukan
siapa-siapa. Aku hanyalah mahasiswa yang lewat di kebunmu beberapa saat lalu,
berniat merawatmu saat ku t’lah siap. Sayangnya, aku terlambat. Tapi semoga, salamku padamu lewat gelombang radio kala itu tersampaikan.
Comments
Post a Comment