Waktu dan Pemainannya
This post is for myself
Waktu
Memberi tanya, memecah jawab
Menggulir roda kehidupan
Dalam kesinambungannya
Yang Konstan namun penuh makn
Waktu
Tak berwujud tak terhenti
Siapakah ia sesungguhnya
Hingga mampu menggurui
Diri tak berharga ini
Oh seandainya saja
Dapat kuputar kembali
Masa yang t’lah lewat
Yang menggejolakkan
hati
Namun apadaya
Sungguh tinggi
hierarkimu
Hingga tak tergapai
olehku
Apalagi
mempermainkannya
Dua kali kau menatapku
Dengan sinis pun
Masih sempat kau tertawa
Terpingkal-pingkal
Menertawaiku dari sana
Dari tempatmu
Singgasana yang amat memukau
Entah dimanakah itu
Yang pertama sudah lalu
Dengan kenaifan itu
Mawar pertama pun layu
Dirinya tak lagi merah
seperti kawannya
Telah ternodai dirinya
Lalu ia bangkit
Amarahnya penuh duri
Ditusuknyalah sukma ini
Tak berdarah memang
Tapi apa kau kira
Melihat mawar putih
kembali
Luka ini telah pulih?
Yang kedua pun telah berlalu
Bermula dari lelucon konyol
Mempermainkan harga diri
Tak terhindarkan
Aku memulai tragedi itu
Mawar kedua pun gugur
Merahnya memudar, mahkotanya tak berseri
Diam demi diam, hening demi hening
Bak manekin tak bebunyi
Yang tak terpecahkan
Oleh tatapan bahkan senyuman
Tiga tahun lamanya, ego
menenami
Hingga akhirnya,
keakuan itu runtuh
Mawar tumbuh tuk unjuk
diri
Mahkotanya berseri-seri
Berwarna merah semerah
darah
Mengikat kembali rantai
yang t’lah putus
Oh
Wahai waktu
Tidakkah kau sedih
Melihatku kau permainkan
Kini kali ketiga
Tahu bahwa ku kecewa
Dan hanya letih yang tersisa
Kau berikanku tiga bunga
Hanya satulah yang sempurna
Dua lainnya cacat tak tampak
Hanya tuk jadi cadangan
Dan ironi..
Belum tentu pula ia memilihku
Tanpa petunjuk apapun
Kau memanasiku
Mendesakku memilih tanpa
ragu
Tapi tidak, wahai waktu
Memang aku tak selihai
dirimu
Dan memang rupaku tak
serupawan dirimu
Tapi untuk kali ini
saja
Perbolehkan aku tuk
memadukan diri
Menyatukan frekuensi
antara aku dan pilihanku
Walau hanya sebagai
pengagum
Biarkan aku menatap
mawar itu
Yang tertutupi oleh
perbedaan
Memotivasi diri tanpa
rendah diri
Yang buatku tersenyum
dalam diam
Tiap kali kami bertatap
dan bersua
Dan yang mungkin
mengisi buku hidupku
Selama empat tahun
kedepan
Comments
Post a Comment